Taman Diponegoro ini dibangun menyusul lahirnya Kota Praja Semarang pada tahun 1906. Pada waktu itu, Dewan Pengelola Kota menilai bahwa kota Semarang bawah sudah mulai kumuh sehingga diputuskan untuk membuka daerah Candi Baru, terutama untuk permukiman. Maka pada tahun 1925, kawasan ini mulai dibangun. Taman Diponegoro merupakan pusat dari kawasan permukiman Candi Baru, dahulu taman ini disebut Raadsplein.
Taman Diponegoro
merupakan simpul pusat kawasan permukiman Candi Baru yang berada di Semarang bagian atas dan merupakan simpul pertemuan wilayah administrasi kelurahan Wonotingal, Tegalsari, Gajahmungkur, dan Lempongsari yang termasuk di bawah administrasi Kecamatan Gajahmungkur dan Candisari. Taman Diponegoro juga sebagai simpul penghubung antara Semarang bawah dan atas, yaitu menghubungkan simpul Simpang Lima yang melewati jalan Diponegoro dan simpul Tugu Muda yang melewati jalan S. Parman. Lokasinya yang terletak di tengah kawasan permukiman menjadi titik pertemuan enam jalan dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi.
Taman ini merupakan pertemuan dari jalan Sultan Agung, jalan S. Parman, jalan Diponegoro, jalan Kawi, jalan Argopuro dan jalan Telomoyo. Pola traffic yang ada di kawasan Taman Diponegoro merupakan pola yang mendistribusikan arah traffic ke jalur-jalur jalan utama tersebut. Pendistribusian ini tampak jelas dengan adanya arus traffic yang mengelilingi Taman Diponegoro kemudian menyebar ke jalur-jalur jalan sekitarnya.
Jalan-jalan di atas dibedakan dalam 2 kelompok berdasarkan tingkat kelebaran jalan, yaitu:

1. Rute Mayor (jaringan jalan utama)
Yaitu jaringan jalan yang membelah di antara kawasan yang fungsinya merupakan rute pencapaian dari luar ke kawasan, yang termasuk di dalamnya yaitu jalur Jl. S. Parman, Jl. Sultan Agung dan Jl. Diponegoro. Lebar jalan ini ± 12m dengan trotoar di kiri dan kanan jalan dengan lebar ± 1.5m.
2. Rute Minor (jaringan jalan pendukung)
Yaitu jaringan jalan yang menghubungkan antara rute mayor dengan bagian dalam jalan lingkungan kawasan dengan skala yang lebih kecil, yang termasuk dalam rute ini antara lain: Jl. Telomoyo, Jl. Kawi dan Jl. Argopuro. Lebar jalan ini sekitar 5-7m, dapat dilalui kendaraan roda empat dengan material jalan aspal dan perkerasan beton
Karena keenam jalan yang bersumbu di Taman Diponegoro merupakan jalur dua arah, maka pencapaian ke kawasan Taman Diponegoro ini melalui keenam jalan tersebut, yang kemudian pada titik temunya membentuk suatu arus lingkar memutari kawasan.
Taman ini merupakan pertemuan dari jalan Sultan Agung, jalan S. Parman, jalan Diponegoro, jalan Kawi, jalan Argopuro dan jalan Telomoyo. Pola traffic yang ada di kawasan Taman Diponegoro merupakan pola yang mendistribusikan arah traffic ke jalur-jalur jalan utama tersebut. Pendistribusian ini tampak jelas dengan adanya arus traffic yang mengelilingi Taman Diponegoro kemudian menyebar ke jalur-jalur jalan sekitarnya.
Jalan-jalan di atas dibedakan dalam 2 kelompok berdasarkan tingkat kelebaran jalan, yaitu:

1. Rute Mayor (jaringan jalan utama)
Yaitu jaringan jalan yang membelah di antara kawasan yang fungsinya merupakan rute pencapaian dari luar ke kawasan, yang termasuk di dalamnya yaitu jalur Jl. S. Parman, Jl. Sultan Agung dan Jl. Diponegoro. Lebar jalan ini ± 12m dengan trotoar di kiri dan kanan jalan dengan lebar ± 1.5m.
2. Rute Minor (jaringan jalan pendukung)
Yaitu jaringan jalan yang menghubungkan antara rute mayor dengan bagian dalam jalan lingkungan kawasan dengan skala yang lebih kecil, yang termasuk dalam rute ini antara lain: Jl. Telomoyo, Jl. Kawi dan Jl. Argopuro. Lebar jalan ini sekitar 5-7m, dapat dilalui kendaraan roda empat dengan material jalan aspal dan perkerasan beton
Karena keenam jalan yang bersumbu di Taman Diponegoro merupakan jalur dua arah, maka pencapaian ke kawasan Taman Diponegoro ini melalui keenam jalan tersebut, yang kemudian pada titik temunya membentuk suatu arus lingkar memutari kawasan.
Posting Komentar